Banner 468x60
Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan

Jumat, Agustus 01, 2008

Mengemas Ulang Punk Rock

Vampire Weekend
Vampire Weekend
XL Recordings / Aksara Records

Photobucket

Di jaman yang semakin canggih, arus informasi bergulir sangat cepat. Bahkan kita dapat mengetahui sebuah berita dari suatu tempat di belahan dunia nun jauh di sana hanya selang hitungan detik saja. Terlebih ketika blog diberdayakan secara maksimal untuk mempromosikan sesuatu, seperti yang dilakukan oleh Ezra Koenig (vokal, gitar), Rostam Batmanglij (keyboard, gitar), Chris Tomson (drum), dan Chris Baio (bass) ketika ‘menjual’ Vampire Weekend melalui internet dan menjadi ‘band blog’ fenomena tersendiri yang ramai dibicarakan orang.

Tidak ada yang mengira jika kuartet ini berasal dari New York. Bagaimana tidak? Yang terdengar dari album ini adalah indie rock Inggris dipadukan dengan Irish folk dan sound benua Afrika yang begitu tenang dan eksotik. Apalagi band yang namanya diambil dari proyek film besutan mereka sendiri yang kemudian judulnya dijadikan nama band ini pandai sekali memilih ketukan sehingga memberi kekayaan dalam setiap lagunya. Hasilnya? Simpel, segar, namun sulit ditebak.

Photobucket foto: istimewa

Lagu “Mansford Roof” terdengar begitu indah mengisi alur yang membuat ketagihan. Pakem punk pun dirombak menjadi lebih menarik dalam “A-Punk” dengan tambahan suara flute. Lainnya pun membuat penasaran untuk disimak, seperti “Cape Cod Kwassa Kwassa”, “M79”, “Oxford Comma”, ataupun “Campus”. Empat lelaki ini telah mendengarkan hasil rekaman Afro-pop dan berhasil menuangkannya kembali ke dalam musik Vampire Weekend dengan sama baiknya.

(review gue ini pernah dimuat di Listen! Magazine edisi April 2008)

Kamis, Juli 31, 2008

Menggarap Cinta Dengan Lebih Advance

Mengonstruksi Resurrection, album yang Merajut kembali Java Jive. Band ini butuh reuni, dan butuh semangat kebangkitan. Ketika percikan semangat muncul kembali, mereka tampil lagi sebagai pria-pria matang, menyimak The Killers, dan Suede, lalu bercerita bagai Casanova tentang perasaannya, juga dengan lebih matang.

Photobucket

Bagi Anda yang melewati masa remaja di dekade 90-an, tentu saja Java Jive tak luput mewarnai kisah romansa ABG di jaman itu. Dan ketika saat ini banyak band yang seakan berlomba menciptakan lirik cinta, justru band asal Bandung ini sudah jauh lebih dulu menciptakan untaian kata yang tak kalah mengiris hati. Sayangnya, sejak album keempat di tahun 1999, IV, mereka seolah seperti kehilangan arah-membuat eksistensinyanya semakin terancam.

Kehadiran mereka kembali - melalui dua album kompilasi tahun 2003 dan 2007, dengan hits-hits terdahulu, “Kau Yang Terindah”, “Permataku”, dan “Gerangan Cinta” - tak mampu mengobati kerinduan secara sempurna. Jeda waktu 9 tahun tanpa materi album yang segar itu memang diakui oleh Dany Spreet, vokalis bersuara melengking, menjadi sikap yang tidak bertanggung jawab pada kehidupan sebagai pemain musik.

Photobucket
foto: Pondra

Tahun 2007 menjadi sebuah momen bersejarah bagi Java Jive setelah tidur panjangnya. “Kini kami merasa lebih nge-band karena keenam personel benar-benar terlibat dalam penggarapan setiap lagu. Kebersamaan lebih terasa dibanding sebelumnya”, ujar Noey, pemain bass Java Jive. “Kita pun sering berkumpul untuk workshop dan brainstorming sehingga timbul semangat yang selama ini hilang. Setelah itu mengalir saja. Lagu-lagu pun datang dengan sendirinya”, Dany menambahkan.

Album kelima mereka ini tetap menggambarkan ciri khas Java Jive lewat 11 lagu bertemakan cinta yang masih tetap mengemuka. “Tapi lebih melebar. Misalkan tentang perselingkuhan, tapi disampaikannya tidak dengan ‘kamu kok selingkuh…’. Ada siasat dan penjabarannya agar jadi lebih indah,” jelas Dany. “Perselingkuhan yang lebih advance”, sahut Edwin seraya tertawa. Unsur modern ikut pula dimasukkan seiring perjalanan musikalitas mereka. Pengaruh U2, Keane, The Killers, dan Suede makin memperkaya konstruksi musik mereka agar bisa diterima oleh para fans baru yang masih remaja tanpa mengacuhkan pengaruh band-band lawas yang juga sempat mereka nikmati, seperti Duran Duran dan INXS.

Jenis lagu yang ditawarkan dalam album ini terasa amat bervariasi mulai dari yang bernuansa rock & roll ala Suede, jazzy, hingga dance. Hal baru juga terlihat dari munculnya satu lagu berbahasa Inggris berjudul “Stay Gold” yang bercerita tentang perlunya seseorang untuk hidup di jalan yang benar dan menjadi orang baik di tengah masyarakat. “Pas kita melihat Nidji, ternyata lagu bahasa Inggris bisa dinikmati di sini. Makanya kita buatlah ‘Stay Gold’ ini”, ungkap Dany.

Awalnya, judul album yang mereka siapkan adalah Resurrection karena album ini mereka anggap sebagai tonggak kebangkitan Java Jive. Edwin merasa bahwa setelah menemukan ‘klik’-nya itu, ada kerinduan untuk berkumpul kembali. Dany mengakui bahwa sikap toleransi selama ini telah menyelamatkan keutuhan mereka. “Toleransi berkembang bukan jika tidak menyukai sesuatu, tapi harus mengorbankan perasaan kita. Untuk bisa seperti itu, kita perlu mengalami proses yang panjang untuk saling mengerti. Ini toleransi berkarya, bisa mewujudkan sesuatu yang lebih kreatif dan positif.” sambungnya.

(ditulis bersama Pondra Novara 'Amazing In Bed' dan Dimas Wahyu)

Swedia Memang Sarangnya

Photobucket

Sonic Syndicate
Only Inhuman
Nuclear Blast/Solucite Records

Sebuah ajang kompetisi musik tak jarang mencuatkan talenta-talenta segar yang selama ini tersembunyi. Hal ini pulalah yang menaikkan ‘derajat’ Sonic Syndicate untuk sejajar dengan para pendahulunya yang sama-sama berasal dari Swedia, dan telah mampu mencengkeram genre metal dunia: In Flames, Dark Tranquility, Arch Enemy, dan Soilwork. Menjadi yang teratas --setelah menyisihkan 1500 band pesaingnya--, dan meyakinkan pihak Nuclear Blast bahwa merekalah yang terbaik - pada kontes pencarian band metal dari seluruh dunia tiga tahun lalu - tentu tak semudah membalik telapak tangan. Artinya, kemampuan sekstet ini telah teruji.

Masuknya Roland Johasson sebagai vokalis kedua dalam band yang dimotori oleh tiga bersaudara Sjunnesson – Richard (vokal), Roger (gitar), dan Robin (gitar) – beserta Karin Axlesson (bass) dan John ‘Runken’ Bengtsson (drum) ini membuat mereka terarah ke jalur yang lebih mainstream karena gaya vokalnya yang lebih clean. But don't worry Headbangers, Roland – yang menulis sebagian besar lirik di album kedua ini – tidak menghilangkan gaya bernyanyinya yang penuh teriakan dan geraman brutal. Belum lagi kombinasi antara musik death metal ala Eropa dengan hardcore Amerika modern tak terdengar kaku berkat aksen Swedia yang telah ditinggalkan. Sejak track awal “Aftermath”, “Double Agent 616”, hingga dua bonus tambahan: “My Soul In #000000” dan “Freelancer”, lagu-lagu mereka dengan cepat melekat di otak meski kuping terus dihujam dengan bunyi-bunyian keras namun menggoda.

Dan bersiaplah karena mereka segera merilis album ketiganya di bulan September mendatang. Masih kuatkah kuping kalian?

Photobucket

(tulisan ini diedit oleh Dimas Wahyu)